Panduan Utama Memahami Data Center Tier, Bisnis Perlu Pilih yang Mana?

Panduan-Utama-Memahami-Data-Center-MyBATICloud

Apakah Anda Sudah Memilih Protokol SSO yang Tepat? Temukan Jawabannya di Sini

Memilih-SSO-yang-Tepat-MyBATICloud
  1. Security Access Markup Language (SAML)
    SAML adalah standar protokol SSO berbasis open standard yang mampu meng-encode teks menjadi bahasa mesin untuk pertukaran informasi identifikasi. SAML adalah standar utama SSO yang membantu provider aplikasi memastikan request autentikasi dengan tepat. SAML biasanya dirancang dan dioptimalisasi untuk aplikasi web (web applications), sehingga transmisi informasi dapat berjalan melalui browser web.

    Lalu, apa contoh SSO berstandar SAML? Berikut penjelasannya. Seorang pengguna ingin mengakses layanan Salesforce. Perusahaan mereka menggunakan Microsoft Active Directory sebagai penyedia identitas (Identity Provider). Saat pengguna mencoba mengakses Salesforce, mereka diarahkan ke layar login Active Directory. Setelah pengguna berhasil login, Active Directory mengirimkan asersi SAML ke Salesforce yang memverifikasi identitas pengguna dan memberikan akses tanpa memerlukan pengguna untuk login kedua kali ke Salesforce.

  2. Open Authorization (OAuth)
    OAuth adalah protokol SSO lainnya dengan otorisasi berbasis open standard yang dapat mentransfer informasi identitas antar aplikasi dan mengenkripsinya ke dalam kode mesin. Protokol ini memungkinkan pengguna akses ke data mereka di aplikasi lain tanpa harus memvalidasi identitas mereka secara manual.

    Contoh OAuth bisa Anda simak dari penjelasan berikut. Seorang pengguna ingin menggunakan aplikasi pihak ketiga seperti Spotify yang ingin mengakses informasi profil pengguna dari Google. Pengguna memberikan izin kepada Spotify untuk mengakses data profil mereka melalui Google. Google, sebagai penyedia layanan, menggunakan OAuth untuk mengeluarkan token akses ke Spotify. Spotify kemudian dapat menggunakan token ini untuk mengakses data pengguna sesuai dengan izin yang telah diberikan.

  3. OpenID Connect (OIDC)
    OIDC bekerja menggunakan protokol OAuth 2.0 untuk menambah informasi tentang pengguna dan memungkinkan proses SSO. Secara fungsional, protokol ini yang memungkinkan satu sesi login digunakan lintas banyak aplikasi.

    Sebagai contohnya, OIDC memungkinkan pengguna untuk login ke layanan dan aplikasi menggunakan akun Facebook atau Google mereka tanpa harus memasukkan kredensial pengguna.

  4. Kerberos
    Kerberos adalah protokol SSO yang memungkinkan otentikasi dari sisi pengguna dan server. Protokol ini digunakan untuk memverifikasi identitas satu sama lain di jaringan yang tidak aman. Protokol ini menggunakan layanan penerbitan tiket yang mengeluarkan token untuk mengotentikasi pengguna dan aplikasi.

    Dalam jaringan perusahaan, seorang karyawan mencoba mengakses server file perusahaan. Sistem mereka menggunakan Kerberos untuk autentikasi. Saat karyawan mencoba mengakses server, klien Kerberos mereka meminta tiket dari Key Distribution Center (KDC). Setelah menerima tiket, karyawan tersebut menggunakannya untuk membuktikan identitas mereka ke server file, yang kemudian memberikan akses kepada karyawan tanpa memerlukan mereka untuk memasukkan kredensial mereka lagi.

Single Sign-On (SSO) Penting untuk Identity Management Bisnis Anda, Begini Cara Kerjanya

Mengapa Anda Harus Memerhatikan SLA pada Layanan Cloud Anda? Simak Penjelasannya di Sini!

Serangan Malware Ini Bisa Mencuri Data Fingerprint di Ponsel Anda! Perhatikan Beberapa Hal Ini

3 Cara Melindungi Keamanan Informasi Anda dengan Identity & Access Management

  1. Melindungi dan Memverifikasi Keamanan Setiap Pengguna
    Sama seperti penjelasan di atas, IAM menyediakan mekanisme yang kuat untuk autentikasi dan otorisasi. Sehingga protokol ini bisa memastikan bahwa hanya pengguna yang terverifikasi yang dapat mengakses sistem dan data. 

    Penggunaan multi-factor authentication (MFA) seperti Rublon sebagai salah satu solusi implementasi Identity Management dapat meningkatkan keamanan dengan memberikan lebih dari satu bentuk verifikasi sebelum diotorisasi masuk. MFA dapat mencakup kombinasi dari sesuatu yang diketahui pengguna (seperti kata sandi), sesuatu yang dimiliki (seperti token keamanan atau ponsel), atau sesuatu yang merupakan karakteristik fisik pengguna (seperti sidik jari).

    Selain itu, IAM juga dapat mengurangi risiko keamanan dari akses tidak sah. Otorisasi berbasis peran (Role-Based Access Control – RBAC) mampu meningkatkan keamanan dengan membatasi akses ke informasi dan fungsi berdasarkan peran pengguna dalam organisasi. Dengan demikian, pengguna hanya memiliki akses ke data dan tugas yang relevan dengan peran mereka sekaligus mengurangi potensi kerusakan dari serangan internal atau eksternal.

  2. Manajemen Identitas Terpusat
    Menggunakan solusi IAM memberikan platform manajemen identitas yang terpusat. Dengan mengintegrasikan pengelolaan identitas dan akses ke dalam satu platform, organisasi dapat lebih mudah memantau dan mengontrol siapa yang memiliki akses ke apa, dan kapan. Sehingga kebijakan keamanan dapat dijalankan secara konsisten di seluruh organisasi serta menyederhanakan administrasi keamanan.

    Manajemen identitas terpusat juga memfasilitasi pemberlakuan kebijakan keamanan yang konsisten dan otomatisasi proses keamanan. Sebagai contoh, penghapusan akses otomatis untuk pengguna yang tidak lagi memerlukan akses ke sistem tertentu atau data dapat diatur melalui platform IAM. Sehingga dapat mengurangi risiko akses yang tidak perlu dan meminimalisir potensi kebocoran data. Salah satu solusi ini adalah Google Workspace, solusi Google Workspace sudah dibekali dengan fitur Identity & Access Management yang komprehensif seperti Single Sign-On (SSO) untuk sebuah bisnis dan organisasi.

  3. Peningkatan Kesadaran Keamanan dan Pelaporan
    Manajemen akses dan identitas tidak hanya memfasilitasi pengelolaan akses yang lebih baik, tetapi juga memberikan alat untuk meningkatkan kesadaran keamanan di seluruh organisasi. Platform IAM pun sering dilengkapi dengan kemampuan untuk menghasilkan laporan dan analisis keamanan, memungkinkan organisasi untuk me-monitor aktivitas pengguna dan mengidentifikasi pola yang mencurigakan. Sebagai hasilnya, tim IT Anda dapat melihat laporan percobaan masuk yang gagal, permintaan akses tidak biasa, atau perubahan kebijakan akses yang tidak sah.

    Informasi ini tentu sangat membantu organisasi untuk mengidentifikasi, menanggapi insiden keamanan, dan meminimalisir dampaknya dengan cepat. Pelaporan dan analitik canggih juga mendukung pemenuhan regulasi keamanan informasi, memastikan bahwa organisasi dapat mematuhi standar industri dan persyaratan hukum terkait pengelolaan dan perlindungan data.

Simak! Ini Pentingnya Disaster Recovery Plan di Saat Bencana

  1. Keberlanjutan Bisnis: Memiliki rencana DRP yang baik dapat membantu memastikan operasional bisnis terus berjalan saat terjadi insiden-insiden

  2. Perlindungan Data: Infrastruktur dan sistem IT yang terus terjaga di saat bencana juga berarti bisnis dapat menjaga integritas dan ketersediaan data penting sebuah bisnis.

  3. Memitigasi Risiko Bisnis: DRP membantu bisnis dalam mengurangi risiko kerugian baik dari segi finansial maupun reputasi perusahaan.

  4. Mematuhi Regulasi Pemerintah: Bagi beberapa sektor industri yang krusial, DRP diwajibkan untuk memenuhi persyaratan hukum dan standar industri.
  1. Replication
    Dalam tahap ini, data dan aplikasi bisnis secara berkelanjutan direplikasi melalui cloud ataupun data center. Proses ini memastikan bahwa versi terbaru dari semua sistem penting tersedia di luar lokasi utama, sehingga mengurangi RPO dan meminimalisir kehilangan data.

  2. Failover
    Ketika bencana terjadi, sistem secara otomatis ataupun manual beralih (failover) ke infrastruktur yang telah direplikasi. Hal ini memungkinkan bisnis untuk terus beroperasi dengan sedikit gangguan. Sehingga bisnis dapat mengurangi RTO dan memastikan kelangsungan operasional bisnis.

  3. Failback
    Setelah situasi telah stabil dan infrastruktur utama siap untuk digunakan kembali, operasi bisnis dapat kembali dipindahkan (failback) dari infrastruktur DR ke lokasi utama. Proses ini dilakukan dengan cara yang terkontrol dan transparan untuk memastikan transisi yang mulus kembali ke operasi normal.

Memahami Ancaman Cyber: Pengertian, Dampak, dan Jenisnya

Ancaman Cyber Terus Mengintai! Gunakan Strategi PDR untuk Meningkatkan Cyber Security Bisnis Anda

  1. Solusi Prevention Security di Email
    Email merupakan salah satu media yang rawan digunakan hacker untuk melakukan phishing dan spam. Maka dari itu, menggunakan Spam Experts memberikan Anda solusi untuk menghindari email-email yang tidak bertanggung jawab di lingkungan kerja tim Anda.

  2. Solusi Prevention di Server
    Server memiliki peran yang sangat penting untuk sebuah bisnis. Hal ini membuat keamanannya perlu untuk diperhatikan lebih lanjut. Terdapat berbagai solusi prevention yang berfokus pada server Anda, berikut beberapa solusi andal yang bisa Anda gunakan.

    BitNinja memberikan kemampuan malware scanner dengan dukungan Artificial Intelligence (AI), Web-Application Firewall (WAF) yang canggih, serta defense network yang dinamis. Sehingga membuat solusi ini menjadi pilihan yang tepat untuk menjadi lapisan keamanan cyber pertama pada server Linux Anda. 

    Selain itu, jika Anda membutuhkan solusi keamanan prevention untuk fungsi virtualisasi, Anda bisa menggunakan Endian UTM Virtual. Endian memberikan fitur Zero Trust yang terus memverifikasi semua kemungkinan serangan dan ransomware pada infrastruktur virtual. Endian juga mendukung 4 platform populer untuk virtualisasi, di antaranya VMware, Hyper-V, Xen, dan KVM.

  3. Solusi Prevention pada Dokumen
    Dokumen adalah hal yang tidak terpisahkan dari seluruh aktivitas bisnis tim Anda. Maka dari itu, sebagai cara untuk mencegah dokumen diakses dan dicuri oleh pihak yang salah, Anda memerlukan langkah preventif yang tepat. 

    Salah satu caranya, Anda bisa menggunakan solusi SmartEncrypt. SmartEncrypt mampu mengenkripsi seluruh dokumen Anda dengan efisien tanpa mengorbankan keamanannya. Sehingga, data seluruh tim Anda akan selalu terenkripsi, bahkan ketika data dipindahkan dan dimodifikasi.

Zero Trust: Kunci Utama untuk Melindungi Sistem Bisnis dari Ancaman Cyber yang Tak Terduga

  1. Verifikasi secara Eksplisit (Verify Explicitly)
    Setiap akses ke sumber daya (resource) jaringan harus dibuktikan dengan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti identitas pengguna, lokasi, kesehatan perangkat, layanan atau beban kerja, klasifikasi data, dan anomali yang terdeteksi. Sehingga, verifikasi keamanan tidak hanya dilakukan saat otorisasi pertama kali, namun kita harus menganalisis risiko dan memvalidasi akses dari setiap perangkat secar terus-menerus.

  2. Berikan Hak Akses Seminimum Mungkin (Least-Privilege Access)
    Pendekatan ini mengurangi risiko keamanan dengan membatasi akses pengguna hanya pada sumber daya (resource) yang mereka butuhkan untuk melakukan tugas tertentu.

    Dalam Zero Trust, perlindungan data dan penerapan kebijakan berbasis risiko yang adaptif menjadi fokus utama untuk menjamin keamanan data setiap saat.

  3. Asumsikan Serangan Terjadi Kapan Saja (Assume Breach)
    Asumsikan serangan keamanan bisa terjadi kapan saja. Oleh karena itu, penting untuk meminimalkan dampak serangan (blast radius) dan memisahkan akses yang tepat. Maka dari itu, kemampuan enkripsi end-to-end harus terus diverifikasi, dan kemampuan analitik harus digunakan untuk meningkatkan visibilitas, mendeteksi ancaman, dan menguatkan tingkat keamanan sistem.
  1. Identitas
    Dalam konteks identitas, Zero Trust diimplementasikan di saat suatu identitas mengakses data dan resource penting dalam infrastruktur IT dan cloud sebuah bisnis. Protokol Zero Trust memastikan setiap identitas memiliki autentikasi yang kuat, akses yang sesuai dengan identitas dengan hak akses seminimal mungkin.

  2. Endpoint
    Setelah identitas diberikan akses ke resource, data dapat berpindah ke berbagai endpoint yang berbeda—mulai dari perangkat IoT hingga smartphone. Kebijakan Zero Trust dalam konteks endpoint sangat bervariatif dan bergantung pada kebijakan yang ada di sebuah perusahaan. Baik itu kebijakan Bring Your Own Device (BYOD), perangkat milik mitra/perusahaan, hingga beban kerja lokal ke server maupun beban kerja yang di-hosting cloud. Keragaman kebijakan ini menciptakan area rentan serangan yang luas. 

    Model Zero Trust sangat penting untuk dijalankan agar tim IT dapat memantau dan menerapkan kondisi dan kepatuhan (compliance) perangkat agar akses ke dalam jaringan sistem perusahaan selalu aman.

  3. Aplikasi
    Melalui pendekatan Zero Trust Security, keamanan aplikasi tidak hanya berfokus pada pengamanan aplikasi itu sendiri, tetapi juga keamanan akses ke aplikasi tersebut. 

    Menggunakan teknologi seperti Web Application Firewalls (WAF), gateway akses aplikasi, dan solusi Cloud Access Security Broker (CASB), organisasi dapat mengontrol akses ke aplikasi berdasarkan kebijakan yang ketat dan kontekstual. Pendekatan ini juga melibatkan penggunaan enkripsi, tokenisasi, dan teknik keamanan data lainnya untuk melindungi data sensitif yang diproses atau disimpan oleh aplikasi.

  4. Data
    Data adalah aset paling berharga untuk sebuah bisnis. Pendekatan Zero Trust menekankan perlunya melindungi data di setiap titik dalam siklus hidupnya. Ini melibatkan klasifikasi data, penerapan kontrol akses berbasis peran, enkripsi data baik dalam keadaan diam maupun dalam transmisi, serta penerapan kebijakan pencegahan kehilangan data (DLP). Dengan memastikan bahwa data hanya dapat diakses oleh pengguna dan aplikasi yang memiliki hak akses yang tepat, organisasi dapat mengurangi risiko keamanan, seperti kebocoran atau penyalahgunaan data.

  5. Infrastruktur IT
    Zero Trust menuntut perlindungan yang ketat terhadap infrastruktur fisik dan virtual, termasuk server, jaringan, dan komponen cloud. Ini mencakup penerapan mikro-segmentasi untuk membatasi pergerakan lateral penyerang dalam jaringan, serta penggunaan alat keamanan berbasis cloud untuk visibilitas dan kontrol atas beban kerja yang tersebar di berbagai lingkungan.

  6. Jaringan
    Zero Trust mentransformasi keamanan jaringan (network) yang didasarkan pada pemahaman yang mendalam tentang alur data, dengan menerapkan prinsip-prinsip mikro-segmentasi dan enkripsi untuk melindungi data saat bergerak. Teknologi seperti Software-Defined Networking (SDN) dan Secure Access Service Edge (SASE) memungkinkan organisasi untuk menerapkan kontrol keamanan yang dinamis dan adaptif, berdasarkan identitas pengguna dan konteks akses.